Kamis, 21 Juni 2012

LCC ( TANAMAN PENUTUP TANAH )


Kekacang penutup bumi: Menanam kekacang penutup bumi dilakukan setelah kerja-kerja pembarisan selesai dilaksanakan. (Kawasan gambut tidak perlu tanam kekacang).
Penutup bumi adalah untuk:
  • Mengawal hakisan
  • Memperbaiki status zat pemakanan dalam tanah, khususnya Nitrogen
  • Memelihara kelembapan tanah
Tiga jenis kekacang penutup bumi yang biasa ditanam adalah:
  • Centrosema pubescens
  • Pueraria phaseoloides
  • Calopogonium mucunoides/caeruleum
Benih kekacang boleh dibeli dari pembekal-pembekal swasta manakala kompos rhizobium boleh dibeli di Institut Penyelidikan Getah Malaysia (RRIM). Kaedah ringkas menanam kekacang penutup bumi adalah seperti berikut:
  • Umumnya campuran 10g kompos rhizobium dengan 10kg biji benih kekacang digunakan.
  • Campuran tersebut ditabur didalam jalur yang selari diantara 2 barisan pokok kelapa sawit.
  • Jarak diantara jalur-jalur adalah 2 meter.
  • Contoh kadar campuran biji benih kekacang adalah seperti berikut:-
Kekacang Kg/ha
Centrocema pubescens 4.0
Pueraria phaseoloides 1.1
Calopogonium caeruleum 0.6
  • Baja campuran N:P:K:Mg (15:15:6:4) digunakan sebagai baja asas dengan kadar 56 kg/hektar.
  • Tabur baja debu Fosfat (seperti CIRP) pada kadar 560 kg sehektar mengikut jadual berikut:
Umur Kekacang
Kadar Baja Debu Fosfat (kg/ha)
Semasa menanam (sepanjang jalur-jalur)
112
2 bulan
112
6 bulan
112
8 bulan
112
12 bulan
112
  • Pengawalan rumpai dan serangga perosak diperlukan dengan mengguna racun-racun yang sesuai jika hendak memperolehi tanaman kacang yang baik.
enanamanPenanaman: Anak benih sawit yang telah berumur 12-15 bulan ditapak semaian adalah sesuai untuk ditanam. Kaedah ringkas penanaman adalah seperti berikut:-
  • Lubang Tanaman disediakan 2-3 minggu sebelum menanam. Ukuran lubang mesti dilebihkan dari ukuran polibeg supaya penanaman mudah dijalankan. Tanah lapisan bawah dan lapisan atas diasingkan.
  • Taburkan 150g - 200g baja Fosfat didalam lubang.
  • Buangkan/Tanggalkan polibeg sebelum anak benih ditanam. Masukkan anak benih kedalam lubang yang telah disediakan.
  • Lubang dikambus dengan tanah lapisan atas dahulu dan diikuti dengan tanah lapisan bawah supaya buku-pangkal pokok berkeadaan sama rata dengan permukaan tanah.
  • Anak benih hendaklah berkeadaan tegak selepas ditanam.
  • Mampatkan tanah disekeliling pokok dengan tidak merosakan akarnya.
  • Masa menanam hendaklah pada musim hujan dan elakkan dari menanam pada musim kemarau.
  • Lazimnya, jarak tanaman yang dipilih adalah 9 meter tiga segi yang memberi 136 pokok pada 1 hektar. Kepadatan pokok sehektar dengan jarak tanaman yang berbeza adalah seperti jadual dibawah:
Jarak
Jumlah Pokok
Meter (Kaki)
Hektar (Ekar)
8.5 (28)
160 (65)
8.7 (29)
148 (60)
9.0 (30)
136 (55)
  • Sulam pokok-pokok yang mati apabila menjalani pemeriksaan sekurang-kurangnya 6 bulan selepas menanam.
Tanaman selinganTanaman selingan:
Kacang tanah, jagong dan lain-lain tanaman kontan atau sayur-sayuran boleh ditanam sebagai selingan dalam masa tiga tahun pertama selepas pokok sawit ditanam.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan tanaman selingan ialah:
  • Tanaman itu memberi keuntungan dalam masa tiga tahun.
  • Tanaman itu tidak memberi persaingan yang boleh menjejaskan
kesuburan pokok kelapa sawit dari segi zat-zat pemakanan, air dan cahaya matahari.
  • Ada pasaran atau mudah memasarkan hasil tanaman selingan itu.
Ternakan Ternakan :
Haiwan ternakan terutamanya kambing biri-biri mempunyai potensi yang baik untuk diternakkan diladang kelapa sawit. Disamping menambahkan hasil dari jualan ternakan, ia dapat juga mengurangkan kos pengawalan rumpai.
Cara menanam tanaman kacangan penutup tanah/legume cover crops (LCC). Menanam tanaman penutup tanah/legume cover crops (LCC) di perkebunan kelapa sawit adalah salah satu tahapan pekerjaan yang penting dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi oleh karena itu diperlukan perhatian yang sangat khusu demi keberhasilannya.

Adapun manfaat tanaman penutup tanah/legume cover crops (LCC) adalah sebagai berikut: 
a) Menekan pertumbuhan gulma, sehingga dapat menghemat biaya pengendalian gulma saat masih tanaman belum menghasilkan
b) Meningkatkan kandungan bahan organik tanah
c) Memperbaiki kondisi fisik tanah yaitu aerasi dan menjaga kelembaban tanah
d) Mencegah dan mengurangi erosi permukaan tanah
e) Mengikat (fiksasi) unsur hara Nitrogen dari udara, dengan demikian memperkaya tanah dengan senyawa Nitrogen
f) Menekan  pertumbuhan hama dan penyakit tertentu
Adapaun Jenis – jenis  kacangan yang biasa digunakan sebagai penutup tanah pada perkebunan kelapa sawit, karet, cacao dan teh adalah:

Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman penutup tanah/legume cover crops (LCC)  yang baik dan disertai pertimbangan biaya, biasanya dilakukan campuran kacangan dengan komposisi per ha sebagai berikut :
a) 6 kg PJ +  3 kg CM +  0,5 kg CC 
b) 2 kg MC

Sedangkan penanaman MB dapat dilakukan dengan tujuan untuk mencadangkan sumber bibit kacangan dalam kebutuhan mendatang (sebagai tanaman induk).
   
Selain dari biji tanaman penutup tanah juga dapat diperbanyak  dengan cara stek. Jenis kacangan yang dapat ditanam dengan stek yaitu Mucuna bracteata (MB) dengan ketentuan:
a) Penyetekan berasal dari tanaman induk MB yang tumbuh subur
b) Cari ruas kacangan MB yang berakar (tidak terlam¬pau muda atau tua) 
c) Ruas MB tersebut langsung ditanam di kantong plastik yang berlubang bagian tepinya (ukuran  10 cm x 8 cm x 0,1 mm) hingga hasil stek tumbuh dengan baik ( ± 2 bulan)
d) Sebagai media dipakai top soil yang bebas dari kotoran
e) Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari (bila tidak turun hujan)
f) Setelah itu, potong hasil stek dan siap ditanam di lapangan

Persiapan menanam tanaman kacangan  penutup tanah/legume cover crops (LCC)
Persiapan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan penutup tanah, dengan tahapan sebagai berikut:
a) Areal bersih dari gulma dan penanaman  dapat  dilakukan setelah pekerjaan memancang
b) Di daerah  yang  baru  dibuka, perlu  dilakukan inokula¬si bakteri Rhizobium (10 gram Rhizobium dalam 0,25 liter air untuk setiap 10 kg campuran kacangan) untuk meningkat¬kan daya ikat (fiksasi) Nitrogen oleh bakteri bintil akar.  Pemberian Rhizobium tidak mutlak dilakukan dan dapat ditiadakan
c) Untuk memudahkan penaburan di lapangan, campuran kacangan + Rhizobium yang cukup kering dicampur dengan pupuk TSP/RP (9 kg campuran LCC + 9 kg TSP/RP untuk 1 Ha)

Sebelum ditanam, kacangan sebaiknya direndam terlebih dahulu dengan air hangat  500 C, dengan tujuan:
a) Mempercepat pertumbuhan kecambah
b) Kacangan akan terapung dan mudah diketahui kosong (tidak baik pertumbuhannya)

Cara Menanam tanaman kacangan  penutup tanah/legume cover crops (LCC)
Cara menanam kacangan penutup tanah/ LCC tergantung dari topografi lahan yang akan ditanam, berikut adalah cara menanam tanaman kacangan  penutup tanah/legume cover crops (LCC) tersebut :

a. Areal datar sampai dengan bergelombang
- Kacangan ditanam sejajar barisan tanaman
- "Larikan" campuran PJ, CM dan CC sebanyak 2 (dua) baris setiap gawangan hidup dan satu baris antar pokok dalam barisan tanaman
- MC ditanam 3 (tiga) lubang di antara pokok dekat rumpukan kayu/batang. Setiap lubang ditanam 3 (tiga) benih MC
- Penanaman kacangan pada areal datar-bergelombang disajikan pada  

b. Areal Bukit Bergunung
- Pada areal berbukit-bergunung dengan pola kontur/teras maka kacangan ditanam searah dengan terasan/ barisan tanaman 
- campuran PJ, CM dan CC sebanyak 4 (empat) titik  antara 2 (dua) pokok di dekat bibir terasan
- MB ditanam di antara titik campuran PJ, CM dan CC


Perawatan kacangan penutup tanah/legume cover crops (LCC)

Pemupukan 
Kacangan perlu dipupuk agar tumbuh subur dan cepat menutup tanah.  Jenis, dosis dan waktu pemupukan disajikan pada Tabel  dibawah ini.

Penyiangan
Agar tanaman kacangan dapat berhasil tumbuh dengan baik maka harus dilakukan penyiangan pada awal masa tanam. Adapun kegiatan penyiangan tanaman kacangan adalah sebagai berikut :
a. Di dalam larikan kacangan 
Penyiangan dilakukan dengan cara mencabuti dengan tangan atau cangkul kecil. Sedangkan di luar/bagian tepi di kanan kiri larikan  digaruk dengan  menggunakan  cangkul  selebar  ± 45 cm. Rotasi penyiangan ini dilakukan  setiap  2 minggu sekali sampai kacangan menutup sempurna.

b. Untuk penyiangan diantara larikan
Dilakukan dengan penyem¬protan herbisida  Paracol (paraquat + diuron) dosis 1,5 - 2,0 liter/ha blanket. Rotasi penyemprotan ini dilakukan 1,5 - 2 bulan sekali sampai pertumbuhan kacangan bergabung (menutup).

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan tentang cara menanam tanaman kacangan penutup tanah/legume cover crops (LCC) di perkebunan semoga dapat mebantu.

Tanaman kacang-kacangan penutup tanah adalah setiap tanaman tahunan, dua tahunan, atau tahunan tumbuh sebagai monokultur (satu jenis tanaman tumbuh bersama-sama) atau polikultur (beberapa jenis tanaman tumbuh bersama-sama), untuk memperbaiki berbagai kondisi yang terkait dengan pertanian berkelanjutan. Tanaman penutup tanah sangat penting, alat berkelanjutan yang digunakan untuk mengelola kesuburan tanah, kualitas tanah, air, gulma (tanaman yang tidak diinginkan yang membatasi potensi produksi tanaman), hama (binatang yang tidak diinginkan, biasanya serangga, yang membatasi potensi produksi tanaman), penyakit, dan keragaman dan satwa liar , di AGROEKOSISTEM (Lu et al 2000).

AGROEKOSISTEM adalah sistem ekologi dikelola oleh manusia di berbagai intensitas untuk menghasilkan pangan, pakan, atau serat. Untuk skala besar, bentuk manusia struktur dan fungsi ekologis proses alam yang terjadi di AGROEKOSISTEM. Sebagai AGROEKOSISTEM sering berinteraksi dengan ekosistem alami tetangga dalam lanskap pertanian, tanaman penutup yang dapat meningkatkan keberlanjutan agroekosistem atribut juga mungkin secara tidak langsung meningkatkan kualitas ekosistem alam sekitarnya. Petani memilih untuk menanam jenis tanaman penutup tanah tertentu dan untuk mengatur mereka dengan cara tertentu berdasarkan kebutuhan khusus dan tujuan mereka sendiri . Kebutuhan dan tujuan yang dipengaruhi oleh biologis, lingkungan, faktor sosial, budaya, dan ekonomi dari sistem pangan di mana petani beroperasi (Snapp et al 2005)..
tanaman kacang – kacangan penutup tanah / Cover Crop juga disebut "pupuk hijau" ini digunakan untuk mengelola berbagai macronutrients tanah dan mikro. Sebagai contoh di Nigeria, tanaman penutup tanah Mucuna pruriens (koro benguk) telah ditemukan untuk meningkatkan ketersediaan fosfor dalam tanah setelah petani menggunakan lebih sedikit rock phosphate (Vanlauwe et al. 2000). Sehubungan dengan nutrisi, dampak tanaman pelindung yang ada pada manajemen nitrogen telah sangat diakui & dinikmati oleh para peneliti dan petani, karena nitrogen sering menjadi unsur ghara yang paling penting dalam produksi tanaman. Cover crop / tanaman penutup yang dikenal sebagai "pupuk hijau" yang tumbuh dan dimasukkan (oleh olah tanah) ke dalam tanah sebelumnya mencapai kematangan penuh, dan dimaksudkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kualitasnya . Mereka umumnya polong- polongan, yang berarti mereka adalah bagian dari Fabaceae (kacang) . Familia Fabaceae ini adalah unik karena semua spesies di dalamnya menghasilkan polong, seperti kacang, kacang-kacangan, bunga lupin dan alfalfa. tanaman penutup polongan biasanya tinggi dalam nitrogen dan sering bisa, untuk berbagai tingkatan, memberikan jumlah N yang diperlukan untuk produksi tanaman yang biasanya bisa diterapkan dalam bentuk pupuk kimia ( disebut pupuk pengganti ) (Thiessen-Martens et al 2005).. Kualitas lain yang unik untuk tanaman penutup polongan adalah bahwa mereka membentuk hubungan simbiosis dengan bakteri rhizobial yang berada di bintil akar leguminosa. Bunga lupin memiliki nodul yang isinya mikroorganisme tanah Bradyrhizobium sp. (Lupinus). Bradyrhizobia ditemui sebagai microsymbionts pada tanaman polongan lain (Argyrolobium, Lotus, Ornithopus, Acacia, Lupinus) asal Mediterania. Bakteri ini mengkonversi secara biologis N2 yang tersedia atmosfer gas nitrogen (N2) untuk nitrogen mineral biologis yang siap serap (NH4 +) melalui proses fiksasi nitrogen biologis. Sebelum kedatangan proses Haber-Bosch, metode energi-intensif dikembangkan untuk melakukan fiksasi nitrogen industri dan menciptakan pupuk kimia nitrogen, nitrogen paling diperkenalkan ke ekosistem muncul melalui fiksasi nitrogen biologis (Galloway et al 1995).. Beberapa ilmuwan percaya bahwa fiksasi nitrogen biologis luas, terutama dicapai melalui penggunaan tanaman pelindung, adalah satu-satunya alternatif untuk fiksasi nitrogen industri dalam upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat produksi pangan di masa depan (Bohlool et al 1992,. Masyarakat dan Craswell 1992, Giller dan Cadisch 1995). fiksasi nitrogen Industri telah dikritik sebagai sumber nitrogen tidak berkelanjutan untuk produksi pangan akibat ketergantungan pada energi bahan bakar fosil dan dampak lingkungan yang terkait dengan penggunaan pupuk kimia nitrogen di bidang pertanian (Jensen dan Hauggaard-Nielsen 2003). Seperti dampak lingkungan yang luas termasuk kerugian pupuk nitrogen ke dalam air, yang dapat menyebabkan eutrofikasi (loading gizi) dan berikutnya hipoksia (deplesi oksigen) dari tubuh besar air. Sebuah contoh ini terletak pada Cekungan Mississippi Valley, di mana tahun loading pupuk nitrogen ke dalam DAS dari produksi pertanian telah menghasilkan zona "hipoksia mati" dari Teluk Meksiko ukuran dari New Jersey (Rabalais et al 2002).. Kompleksitas ekologi kehidupan laut di zona ini telah berkurang sebagai konsekuensi (CENR 2000). nitrogen membawa Selain ke AGROEKOSISTEM melalui fiksasi nitrogen secara biologis, tanaman penutup dikenal sebagai "tanaman menangkap" digunakan untuk mempertahankan dan daur ulang nitrogen tanah sudah ada. Menangkap tanaman nitrogen surplus mengambil sisa dari fertilisasi tanaman sebelumnya, mencegah dari yang hilang melalui pencucian (Morgan et al. 1942) denitrifikasi, atau gas atau penguapan (Thorup-Kristensen et al 2003).. Catch tanaman biasanya cepat tumbuh spesies sereal tahunan disesuaikan dengan mengais nitrogen tersedia secara efisien dari tanah (Ditsch dan Alley 1991). Nitrogen terikat dalam biomassa tanaman menangkap dilepaskan kembali ke tanah setelah tanaman menangkap didirikan sebagai pupuk hijau atau mulai terurai
Cover crop / tanaman penutup dapat meningkatkan kualitas tanah dengan meningkatkan tingkat bahan organik tanah melalui input tutupan biomassa tanaman dari waktu ke waktu. Peningkatan bahan organik tanah meningkatkan struktur tanah, serta air dan gizi memegang dan kapasitas dapar tanah (Patrick et al 1957).. Hal ini juga dapat menyebabkan peningkatan penyerapan karbon tanah, yang telah dipromosikan sebagai strategi mitigasi untuk membantu mengimbangi meningkatnya kadar karbon dioksida atmosfer (Kuo dkk 1997, Sainju dkk.. 2002, Lal, 2003).

Meskipun tanaman penutup dapat melakukan beberapa fungsi dalam suatu agroekosistem secara bersamaan, mereka sering ditanam untuk tujuan tunggal mencegah erosi tanah. erosi tanah adalah proses yang diperbaiki lagi dapat mengurangi kapasitas produktif suatu agroekosistem. tanaman penutup padat berdiri secara fisik memperlambat kecepatan curah hujan sebelum kontak permukaan tanah, mencegah tanah percikan dan aliran permukaan yg menyebabkan (Romkens et al 1990).. Selain itu, jaringan akar tanaman penutup besar membantu jangkar tanah di tempat dan meningkatkan porositas tanah, menciptakan jaringan habitat yang cocok untuk makrofauna tanah (Tomlin et al 1995)..
Kualitas tanah dikelola untuk menghasilkan situasi optimal untuk tanaman berkembang. Faktor utama kualitas tanah adalah salinasi tanah, pH, keseimbangan mikroorganisme dan pencegahan kontaminasi tanah.



Pengendalian Air

Dengan mengurangi erosi tanah, tanaman penutup seringkali juga mengurangi baik tingkat dan kuantitas air yang mengalir di luar lapangan, yang biasanya akan menimbulkan risiko lingkungan perairan dan ekosistem hilir (Dabney et al 2001).. Cover biomassa tanaman bertindak sebagai penghalang fisik antara curah hujan dan permukaan tanah, sehingga air hujan untuk terus menetes ke bawah melalui profil tanah. Juga, seperti yang dinyatakan di atas, mencakup hasil pertumbuhan akar tanaman dalam pembentukan pori tanah, yang selain untuk meningkatkan habitat tanah makrofauna menyediakan jalur untuk air untuk menyaring melalui profil tanah daripada pengeringan di luar lapangan sebagai aliran permukaan. Dengan resapan air meningkat, potensi untuk penyimpanan tanah air dan pengisian kembali akuifer dapat ditingkatkan (Joyce et al 2002).. Tepat sebelum tanaman penutup tanah adalah dibunuh (oleh praktek tersebut termasuk memotong, mengolah, discing, rolling, aplikasi herbisida) mereka berisi sejumlah besar uap air. Ketika tanaman penutup tanah adalah dimasukkan ke dalam tanah, atau ditinggalkan di permukaan tanah, sering kali meningkatkan kelembaban tanah. Dalam AGROEKOSISTEM mana air untuk produksi tanaman adalah pasokan pendek, tanaman penutup dapat digunakan sebagai mulsa untuk menghemat air dengan bayangan, dan pendinginan permukaan tanah. Hal ini akan mengurangi penguapan kelembaban tanah. Dalam situasi petani lainnya mencoba untuk mengeringkan tanah secepat mungkin akan memasuki musim tanam. Di sini kelembaban konservasi tanah dapat menjadi masalah yang berkepanjangan. Sementara tanaman penutup dapat membantu untuk melestarikan air, di daerah beriklim sedang (terutama pada tahun-tahun dengan curah hujan rata-rata di bawah ini) mereka dapat penarikan pasokan air tanah di musim semi, terutama jika kondisi pertumbuhan iklim yang baik. Dalam kasus ini, tepat sebelum tanam, petani seringkali menghadapi tradeoff antara manfaat dari peningkatan pertumbuhan tanaman penutup dan kekurangan mengurangi kelembaban tanah untuk produksi tanaman kas musim itu.


Pengendalian Gulma
tanaman penutup tebal berdiri juga sering bersaing dengan gulma selama masa pertumbuhan tanaman penutup tanah, dan dapat mencegah biji gulma yang paling berkecambah dari menyelesaikan siklus hidup mereka dan mereproduksi. Jika tanaman penutup yang tersisa pada permukaan tanah daripada dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau setelah pertumbuhan yang dihentikan, dapat membentuk tikar hampir tak tertembus. Hal ini secara drastis mengurangi transmitansi cahaya untuk bibit gulma, yang dalam banyak kasus mengurangi tingkat perkecambahan biji gulma (Teasdale 1993). Lebih jauh lagi, bahkan ketika benih gulma berkecambah, mereka sering kehabisan energi yang tersimpan untuk pertumbuhan sebelum membangun kapasitas struktural yang diperlukan untuk menembus lapisan mulsa tanaman penutup. Hal ini sering disebut tanaman penutup melimpahi efek (Kobayashi et al 2003).. Beberapa tanaman penutup menekan pertumbuhan gulma baik selama dan setelah kematian (Blackshaw et al 2001).. Selama pertumbuhan tanaman pelindung ini bersaing keras dengan gulma untuk ruang yang tersedia, ringan, dan nutrisi, dan setelah kematian mereka melimpahi berikutnya flush gulma dengan membentuk lapisan mulsa di permukaan tanah. Sebagai contoh, Blackshaw et al. (2001) menemukan bahwa bila menggunakan Melilotus officinalis (sweetclover kuning) sebagai tanaman penutup pada sistem bera yang diperbaiki (di mana masa bera sengaja ditingkatkan dengan sejumlah praktek manajemen yang berbeda, termasuk penanaman tanaman pelindung), biomassa rumput hanya merupakan antara 1-12% dari total biomassa berdiri di akhir musim tanam tanaman penutup. Selanjutnya, setelah berakhirnya tanaman penutup tanah, residu sweetclover gulma kuning ditekan ke tingkat 75-97% lebih rendah dibandingkan dengan kosong (tidak ada sweetclover kuning) sistem Selain penekanan gulma berbasiskan-kompetisi atau fisik, tanaman penutup tertentu dikenal untuk menekan gulma melalui allelopathy (Creamer et al 1996,. Singh et al. 2003). Hal ini terjadi ketika menutup senyawa biokimia tertentu tanaman yang rusak yang terjadi bersifat toksik bagi, atau menghambat perkecambahan biji, jenis tanaman lainnya. Beberapa contoh yang terkenal tanaman penutup allelopati adalah Secale cereale (gandum), Vicia villosa (vetch berbulu), Trifolium berpura-pura (semanggi merah), Sorghum bicolor (sorgum-sudangrass), dan spesies di keluarga Brassicaceae, khususnya mustard (Haramoto dan Gallandt 2004). Dalam sebuah penelitian, rye menutupi sisa tanaman yang ditemukan telah diberikan antara 80% dan 95% dari kontrol gulma berdaun lebar awal musim ketika digunakan sebagai mulsa selama produksi tanaman yang berbeda seperti kedelai, tembakau, jagung, dan bunga matahari (Nagabhushana et al 2001).


Pengendalian Penyakit
Dengan cara yang sama bahwa sifat allelopati tanaman penutup dapat menekan gulma, mereka juga dapat mematahkan siklus penyakit dan mengurangi populasi penyakit bakteri dan jamur (Everts 2002), dan nematoda parasit (Potter et al. 1998, Vargas-Ayala dkk. 2000 ). Spesies dalam keluarga Brassicaceae, seperti mustard, telah banyak ditunjukkan untuk menekan populasi penyakit jamur melalui pelepasan zat kimia beracun alami selama degradasi senyawa glucosinolade pada jaringan tanaman sel mereka (Lazzeri dan Manici 2001).



Pengendalian Hama
Beberapa tanaman penutup digunakan sebagai apa yang disebut "tanaman perangkap", untuk menarik hama menjauh dari tanaman utama dan terhadap apa yang hama lihat sebagai habitat yang lebih baik (Shelton dan Badenes-Perez 2006). Perangkap areal tanaman dapat didirikan dalam tanaman, dalam pertanian, atau dalam lanskap. Dalam banyak kasus, tanaman perangkap ditanam selama musim yang sama dengan tanaman pangan yang dihasilkan. Luas lahan terbatas diduduki oleh tanaman perangkap dapat diobati dengan pestisida sekali hama tertarik ke dalam perangkap dalam jumlah yang cukup besar untuk mengurangi populasi hama. Dalam beberapa sistem organik, petani akan mendapat manfaat selama tanaman perangkap dengan bekerja sebagai vakum yang berukuran besar secara fisik menarik dari hama tanaman dan keluar dari lapangan (Kuepper dan Thomas 2002). Sistem ini telah direkomendasikan untuk digunakan untuk membantu mengendalikan hama lygus bug dalam produksi stroberi organik (Zalom et al. 2001). tanaman pelindung lainnya digunakan untuk menarik predator alami hama dengan menyediakan unsur-unsur habitat mereka. Ini adalah bentuk kontrol biologis dikenal sebagai habitat augmentasi, tetapi dicapai dengan menggunakan tanaman penutup (Bugg dan Waddington 1994). Temuan mengenai hubungan antara kehadiran tanaman penutup tanah dan predator / dinamika populasi hama telah dicampur, menunjuk ke arah perlunya informasi yang lengkap tentang jenis tanaman penutup yang spesifik dan praktik manajemen terbaik untuk melengkapi strategi manajemen hama terpadu yang diberikan. Misalnya, tungau predator Euseius tularensis (Congdon) dikenal untuk membantu mengendalikan hama thrips jeruk di kebun jeruk California Tengah. Para peneliti menemukan bahwa beberapa penanaman tanaman pelindung yang berbeda polongan (seperti kacang bel, vetch woollypod, Selandia Baru semanggi putih, dan kacang musim dingin Austria) disediakan serbuk sari yang cukup sebagai sumber makanan menyebabkan peningkatan populasi musiman di Congdon, yang dengan waktu yang baik berpotensi cukup memperkenalkan tekanan predator untuk mengurangi populasi hama thrips jeruk (Grafton-Cardwell et al. 1999).


Dampak Negatif LCC• Persaingan dengan tanaman pokok

• Mengganggu tanaman pokok
• Sebagai tempat bersarang tikus
• Kadang menjadi inang dari bakteri, virus, dan jamur


Beberapa Perlakuan Sebelum Penanaman Benih LCC • Perendaman benih dalam air hangat: dilakukan selama 2 jam pada suhu 75ºC
• Direndam dalam larutan glycerin: selama 2 jam pada suhu 60ºC
• Direndam dalam larutan asam (asam sulfat): selama 8-15 menit
• Penipisan kulit benih (skarifikasi)
• Supaya pertumbuhan dan perkembangan LCC berlangsung dengan baik, sebelum benih di tanam perlu diinokulasi menggunakan Rhizobium , atau setelah air perendam mendingin,campurkan pupuk mikroba TX- 777 4 tutup botol / liter air dan segenggam MX-888 per liter air rendaman.
CARA MENANAM KACANGAN
Setelah kacangan diberi perlakuan, diinokulasi dan dicampur dengan pupuk, kacangan siap untuk ditanam di lapangan secara manual (pakai tangan) atau mekanis (pakai tractor yang dilengkapi alat penabur = simple seed drill tractor).
4.1. SISTEM LARIKAN/JALUR (STRIP CROPPING)
Untuk mempermudah penempatan biji kacangan di lapangan maka sebelum ditanam agar dibuat larikan.
a. Alternatif Pertama :
Ø Campuran kacangan (kecuali Mucuna bracteata) ditanam dalam larikan, yaitu 5 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak antar baris = 1,5 m) dan 1 baris larikan pada barisan tanaman (jarak dari titik tanam = 2,0 m).
Ø Kacangan Mucuna bracteta (MB) ditanam pada gawangan mati disisi jalur rumpukan kayu dengan cara pocket dan tugal. Jarak tanam antara kacangan dibuat 5 m dan setiap pocket diberi 3-4 biji kacangan MB.
b. Alternatif Dua :
Ø Campuran kacangan ditanam dalam larikan, yaitu 3 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak antar baris = 2,3 m) dan 3 baris larikan diantara 2 tanaman (jarak antar baris = 2,3 m) dengan posisi saling tegak lurus (sudut 90O).
Ø Penanaman kacangan di gawangan hidup maupun gawangan mati diperlakukan sama, dengan catatan pembuatan jalan pikul dilakukan setelah kacangan tumbuh merata menutupi areal, yaitu saat TBM-1.
c. Alternatif Tiga :
Ø Campuran kacangan (kecuali Mucuna bracteata) ditanam dalam larikan, yaitu 2 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak antar baris = 3,0 m) dan 1 baris larikan pada barisan tanaman (jarak dari titik tanam = 2,0 m).
Ø Kacangan Mucuna bracteta (MB) ditanam pada gawangan mati disisi jalur rumpukan kayu dengan cara pocket dan tugal. Jarak tanam antara kacangan dibuat 5 m dan setiap pocket diberi 3-4 biji kacangan MB.
d. Alternatif Empat :
Ø Campuran kacangan (PJ+CM) ditanam dalam larikan, yaitu 2 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak antar baris = 3,0 m) dan 1 baris larikan pada barisan tanaman (jarak dari titik tanam = 2,0 m).
Ø Penanaman kacangan di gawangan hidup maupun gawangan mati diperlakukan sama.
e. Alternatif Lima :
Ø Campuran kacangan (PJ+CM) ditanam dalam larikan, yaitu 2 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak antar baris = 2,8 m).
Ø Kacangan CC ditanam dalam larikan, yaitu 1 baris larikan diantara barisan tanaman (jarak = 3,95 m dari barisan tanaman) dan 2 baris larikan diantara 2 tanaman (jarak dari titik tanam = 3,5 m).
4.2. SISTEM TUGAL (POCKET CROPPING)
Pemakaian sistem tugal (pocket cropping) dilakukan apabila target waktu penanaman kacangan cukup pendek, tenaga kerja kurang dan menginginkan biaya penanaman yang lebih murah. Cara penanaman kacangan sama seperti sistem larikan hanya saja campuran kacangan ditanam pada lubang yang dibuat dengan tugal, yaitu :
a. Jarak antar lubang tugal dibuat per 2 m.
b. Ukuran lubang tugal : dalam = 5,0-7,0 cm dan diameter = 7,0 cm
c. Setelah campuran kacangan ditanam, lubang ditutup kembali dan agak dipadatkan.
.2. PEMUPUKAN KACANGAN
Agar kacangan dapat tumbuh subur sehingga dapat cepat menutup tanah secara keseluruhan maka kacangan perlu dilakukan pemupukan dengan dosis sebagai berikut :
Umur Kacangan Dosis (Kg per Ha)
Urea NPK-15 RP Kaptan
1 bulan sebelum tanam 400
2 minggu 25
4 minggu 25
6 bulan 60
12 bulan 60
2 tahun 100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar